Cara Tepat Hitung Stunting: Deteksi Dini Gizi Buruk Anak

Cara menghitung stunting pada anak mudah dilakukan sendiri di rumah hanya dengan mengukur tinggi badan dan berat badan, lalu membandingkannya dengan grafik pertumbuhan yang telah ditentukan.
Cara Tepat Hitung Stunting: Deteksi Dini Gizi Buruk Anak

Pendahuluan: Memahami Stunting

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis. Kondisi ini ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dari standar usianya. Stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga pada perkembangan kognitif, sosial, dan emosionalnya. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara menghitung stunting agar dapat melakukan pencegahan dan penanggulangan secara tepat.

Indikator Stunting

Untuk menghitung stunting, diperlukan beberapa indikator, yaitu:
  • Tinggi badan: Tinggi badan anak diukur dalam satuan sentimeter (cm) menggunakan stadiometer atau pengukur tinggi badan yang akurat.
  • Usia: Usia anak dihitung dalam bulan atau tahun sejak tanggal lahir.
  • Jenis kelamin: Jenis kelamin anak perlu diketahui karena terdapat perbedaan standar tinggi badan antara anak laki-laki dan perempuan.

Cara Menghitung Stunting

Cara menghitung stunting dapat dilakukan dengan menggunakan rumus berikut: ``` Z-score = (TB aktual - TB standar median) / SD ``` Keterangan: * Z-score: Skor yang menunjukkan tingkat stunting anak. * TB aktual: Tinggi badan anak yang diukur dalam cm. * TB standar median: Tinggi badan standar median untuk anak sejenis kelamin dan usia yang sama. * SD: Deviasi standar tinggi badan anak sejenis kelamin dan usia yang sama.

Interpretasi Z-score

Hasil perhitungan Z-score kemudian diinterpretasikan sebagai berikut: * Z-score <-2: Stunting. * Z-score -2 hingga -1: Risiko stunting. * Z-score > -1: Tidak stunting.

Faktor Risiko Stunting

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan stunting, antara lain: * Gizi ibu selama kehamilan: Ibu yang mengalami kekurangan gizi selama kehamilan berisiko melahirkan anak yang stunting. * ASI eksklusif: Bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupannya berisiko lebih tinggi mengalami stunting. * Pola makan tidak sehat: Pola makan anak yang tidak sehat, seperti kurangnya asupan protein, zat besi, dan vitamin, dapat menyebabkan stunting. * Sanitasi dan higiene yang buruk: Kondisi sanitasi dan higiene yang buruk dapat meningkatkan risiko anak terkena infeksi, yang dapat mengganggu pertumbuhannya. * Status ekonomi rendah: Keluarga miskin seringkali mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka.

Pencegahan Stunting

Stunting dapat dicegah dengan melakukan beberapa hal berikut: * Mencukupi gizi ibu selama kehamilan: Ibu hamil perlu mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan gizi janin. * Menerapkan ASI eksklusif: Bayi harus diberi ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupannya. * Memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi: Setelah usia 6 bulan, bayi perlu diberi MPASI yang bergizi untuk memenuhi kebutuhan gizi yang semakin meningkat. * Menjaga kebersihan dan sanitasi: Keluarga perlu menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan untuk mencegah anak terkena infeksi. * Meningkatkan status ekonomi keluarga: Pemerintah perlu memberikan bantuan kepada keluarga miskin untuk meningkatkan status ekonomi mereka.

Penanggulangan Stunting

Jika seorang anak sudah terlanjur mengalami stunting, maka perlu dilakukan penanggulangan untuk mencegah dampak buruk lebih lanjut. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi stunting antara lain: * Memberikan makanan tambahan: Anak stunting perlu diberi makanan tambahan yang bergizi untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhannya. * Memberikan suplemen gizi: Anak stunting juga perlu diberi suplemen gizi untuk memenuhi kebutuhan gizi yang tidak terpenuhi dari makanan. * Melakukan stimulasi tumbuh kembang: Anak stunting perlu diberikan stimulasi tumbuh kembang untuk meningkatkan perkembangan kognitif, sosial, dan emosionalnya. * Memberikan dukungan psikologis: Anak stunting seringkali mengalami masalah psikologis, seperti rendah diri dan kecemasan. Oleh karena itu, mereka perlu diberikan dukungan psikologis untuk membantu mereka mengatasi masalah tersebut.

Kesimpulan

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang dapat berdampak buruk pada tumbuh kembang anak. Untuk mencegah dan menanggulangi stunting, perlu dilakukan berbagai upaya, mulai dari mencukupi gizi ibu selama kehamilan hingga memberikan makanan tambahan dan suplemen gizi kepada anak stunting. Dengan demikian, anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.